BELITUNGTIMES.COM, MANGGAR – Di balik senyum hangat dan tutur lembutnya, Setiowati, seorang guru dan pengawas Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan Belitung Timur, menyimpan semangat besar untuk mengubah wajah pendidikan dari hal yang sering kali dianggap sepele : lahan kosong di sekolah.
Perempuan yang akrab disapa Bu Tio ini baru saja mencatat prestasi membanggakan. Dia dinobatkan sebagai Juara 1 Pengawas Dikdas Transformatif se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Prestasi itu mengantarkannya mewakili Bangka Belitung ke tingkat nasional, sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga bagi dunia pendidikan di Belitung Timur.
Dalam wawancara bersama BelitungTimes.com, Rabu (12/11/2025), Setiowati mengaku bersyukur dan terharu.
“Saya tidak pernah menyangka bisa sejauh ini. Awalnya saya hanya ingin membuat perubahan kecil di sekolah-sekolah binaan,” ujarnya dengan nada penuh kerendahan hati.
Dia bercerita, semua bermula dari keprihatinannya selama menjadi guru beberapa tahun lalu. Dia melihat lahan-lahan sekolah yang tidak terurus, ditumbuhi rumput liar, bahkan dijadikan tempat pembuangan sampah.
“Padahal di situ ada potensi besar,” katanya.
Dari situlah lahir gagasannya Transformasi Lahan Sekolah Tidak Produktif Menjadi Kebun Edukatif, sebuah inovasi yang kini saat dia jadi pengawas SD diaplikasikannya di tiap sekolah binaan dan menjadi praktik baik sekaligus diakui di tingkat provinsi.
Lewat program ini, Setiowati mengajak masyarakat sekolah untuk memanfaatkan lahan kosong menjadi ruang belajar hidup.
Siswa, guru, dan orang tua bersama-sama menanam tanaman obat keluarga, sayur-mayur, hingga buah-buahan, semuanya dikemas dengan kreatif menggunakan bahan bekas seperti ban dan botol plastik.
“Tujuannya bukan cuma menghijaukan sekolah. Tapi agar anak-anak belajar langsung dari alam. Mereka tak hanya tau definisi tanaman, tapi juga memahami cara menanam, merawat, dan memanfaatkannya,” kata Setiowati yang saat ini memegang 16 SD di dua kecamatan.
Perjalanan itu tentu tak selalu mulus. Setiowati harus berhadapan dengan tantangan terbesar yaitu mengubah pola pikir.
Dia bilang dulu banyak yang berpikir ini hanya proyek tambahan yang bikin repot. Tapi dia ingin mengubah cara pandang itu dengan mengajak mereka melihat lahan sebagai laboratorium belajar, bukan beban.
Dia menamai pendekatan itu strategi ‘Tahan Tangguh’ yaitu singkatan dari Pemanfaatan Lahan dengan Tanggungjawab dan Kesungguhan.
Melalui pendekatan ini, dia tidak hanya mendorong guru untuk aktif, tetapi juga membangun kolaborasi lintas pihak, mulai dari komite sekolah, paguyuban kelas, dinas pertanian, hingga perusahaan lokal yang ikut menyumbang pupuk dan bibit tanaman.
Dia juga menginisiasi Lomba Kebun Edukatif Antar Kelas, yang ternyata menjadi pemicu semangat baru di sekolah-sekolah binaan.
“Awalnya guru dan siswa malu-malu, tapi lama-lama jadi bangga. Bahkan orang tua ikut datang ke sekolah untuk membantu. Ada rasa memiliki yang tumbuh di situ,” katanya tersenyum.
Kini, hampir seluruh sekolah binaan Setiowati telah memiliki kebun edukatif. Lahan yang dulunya gersang kini berubah menjadi kebun hijau penuh kehidupan, tempat anak-anak belajar biologi, sains, bahkan nilai gotong royong.
Guru-guru pun mulai berani mengubah gaya mengajarnya.
“Mereka kini lebih sering membawa murid belajar di luar kelas. Belajar tidak lagi hanya dari buku, tapi dari pengalaman langsung,” ujar Setiowati bangga.
Dampaknya terasa nyata. Anak-anak jadi lebih peka terhadap lingkungan, lebih kritis, dan punya kebanggaan baru terhadap sekolah mereka. Orang tua yang dulu pasif kini rutin datang membantu, bahkan mengajarkan keterampilan berkebun kepada siswa.
Bagi Setiowati, prestasi juara 1 ini bukan sekadar penghargaan pribadi. Dia melihatnya sebagai bentuk pengakuan atas kerja kolaboratif antara pengawas, guru, orang tua, dan siswa di Belitung Timur.
“Kalau kita mau berubah, lingkungan juga akan berubah. Saya hanya memantik api kecilnya,” katanya lirih.
Kini, dia tengah bersiap membawa praktik baik ini ke tingkat nasional.
“Harapan saya sederhana. Semoga inspirasi dari Belitung Timur bisa menular ke sekolah-sekolah lain di Indonesia. Bahwa inovasi pendidikan tidak harus dimulai dari hal besar, tapi dari keberanian untuk memanfaatkan apa yang ada,” kata Setiowati. (SAW)






